Kamis, 22 Maret 2012
Rabu, 14 Maret 2012
setetes darah anda, nyawa mereka
“Setetes darah anda, nyawa bagi mereka”
merupakan tulisan yang terpampang besar di bus donor darah milik PMI. Tanggal 2
maret 2012 lalu, UKM KSR PMI Universitas
Riau mengadakan kegiatan donor darah di sekretariat mereka di stadiun mini
mulai pukul 08.00 sampai 12.00 WIB.
Jam 10.00 sampailah saya disana dengan
semangat 45 buat donor darah, sambil berharap Hb saya tidak rendah. Sebab
sebelumnya saya pernah gagal untuk donor darah waktu suluh yang mengadakan
kegiatan serupa karena bergadang semalaman sehingga Hb saya rendah waktu itu.
Setelah menimbang berat badan (58Kg) dan
mengisi formulir, diukurlah tensi saya yang menurut petugasnya normal, lalu
darah saya diambil beberapa tetes untuk mengukur Hb dan mengecek golongan darah
(B-). Waktu saya cerita tentang golongan darah saya ini ke mama, beliau tidak
terima, katanya “kok bisa??mana mungkin, darah mama aja AB papa O” saya katakan
“kayak gitu hasilnya di tes tadi”, hmm…dipertanyakan nih anak siapa?? Haha…
Setelah itu saya pun menunggu antrian
kira-kira setengah jam. Waktu giliran saya dipanggil, saya masuk kedalam bus.
Disana ada 4 kursi untuk pendonor dengan 2 orang petugas, kemudian duduklah
saya di salah satu kursi yang kosong, bus nya full ac dan full musik, enak
pokoknya suasananya. Lalu petugas mencari nadi saya untuk ditusuk dengan jarum,
lubang jarumnya besar, lumayan juga sakitnya. Dan darah saya pun mengalir
kedalam kantong sebanyak 350 cc. setelah kantong terisi penuh darah saya
dimasukkan kedalam 2 tabung reaksi untuk pemeriksaan lab. Untuk memeriksa
apakah darah saya sehat dan layak diberikan ke orang lain.
Senin, 12 Maret 2012
RiauPos: Mapala se-Riau Aksi Damai di Pasirpangaraian
RiauPos: Mapala se-Riau Aksi Damai di Pasirpangaraian
Para pencinta alam di Riau berkumpul di Pasirpangaraian. Selain melakukan pertemuan, mereka juga gelar aksi damai, menuntut penyelamatan hutan lebih serius.
PASIRPANGARAIAN- Ratusan pemuda Riau, tergabung dalam Pertemuan Bersama (Purnama) Pencinta Alam Riau Satu, Ahad (11/3/12), menggelar aksi damai di Taman Kota Pasirpangaraian, Kabupaten Rokan Hulu. Para Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) itu minta aparat hukum ikut selamatkan hutan di Riau.
Pada aksinya, ratusan pemuda peduli terhadap lingkungan, desak aparat penegak hukum di Riau untuk tegas terhadap para oknum perambah hutan di Riau. Perihal itu untuk menyelamatkan hutan Riau yang semakin hari semakin parah rusak oleh ulah manusia serakah manusia yang tidak bertanggung-jawab.
“Kita minta aparat penegak hukum peduli dengan lingkungan di Riau. Lihat hutan kita sudah habis untuk lahan perkebunan dan dijarah kekayaannya oleh oknum serakah. Bencana di Riau itu bukan takdir, tapi karena ulah kita sendiri yang kurang peduli terhadap lingkungan. Mereka hanya mau mengambil hasilnya, tanpa mau ikut menjaganya,” sampai AL, koordinator aksi dari Mapala Pasipic UIR, dalam aksi damainya di Taman Kota Pasirpangaraian, Ahad.
Para Pecinta Alam se-Riau, turut minta Pemkab Rohul turut serta dalam menjaga hutan. Seperti kerusakan hutan, menurut mereka sangat memalukan, apalagi Rohul sebagai tuan rumah tiga cabang olahraga Dirgantara pada PON XIII di Riau 2012.
“Mestinya kita malu, dimana peserta para layang dari 33 provinsi di Indonesia, nantinya akan saksikan langsung rusaknya hutan di Rohul dari atas,” kata orator lain.
Pada kesempatan aksi damai, selain menggelar aksi treatikal manusia hijau, massa dari Purnama Pecinta Alam Riau Satu turut membagikan bibit tanaman kepada pengguna jalan.
Terang Ketua Pelaksana Purnama Pecinta Alam Riau Satu Fasolla Nasution, dari Mapala Polipera, kegiatan Purnama Pecinta Alam se-Riau Satu baru pertama kalinya digelar di Riau, dan Universitas Pasir Pangaraian (UPP) dipercaya sebagai tuan rumah, mulai Kamis (8/3/12) dan berakhir Ahad (11/3/12).
Kegiatan empat hari itu, selama dua para peserta gelar Kongres Mapala se-Riau di Kampus UPP. Di hari ketiga, para peserta pindah ke obyek wisata Air Panas Hapanasan di Kecamatan Rambah, untuk meninjau penangkaran kupu-kupu dan mengikuti seminar pengenalan tanaman makanan pokok untuk hewan jenis Insecta atau Insecti (serangga), sebutan latin hewan cantik yang memiliki sayap indah.
Fasolla mengaku, penangkaran kupu-kupu di obyek wisata Air Panas Hapanasan cukup bagus dikembangkan oleh profesional, sebab penangkaran hewan indah itu jarang sekali mendapat perhatian.
Purnama Pencinta Alam Riau Satu di UPP, kata Fasolla diikuti Mapala dari Kota Pekanbaru, Dumai, Kabupaten Bengkalis, Indra Giri Hilir, Indra Giri Hulu, Kampar, dan Rohul. Sementara pada kegiatan pertama kalinya itu, Mapala dari Kuantan Sengingi belum datang.
“Kegiatan ini pertama kalinya, jadi kita tidak muluk-muluk. Kita mulai dahulu dari kita sendiri. Kita inginkan Riau menjadi hijau kembali. Direncanakan aksi ini akan dilakukan setahun sekali, direncanakan tahun depan akan digelar di Bengkalis,” jelasnya menjawab riauterkini.com di sela-sela aksi.
Dari data-data yang dihimpun, menurutnya kerusakan hutan di Riau sudah sangat mengerikan dan memprihatinkan. Tapi untuk selamatkan hutan di Riau, pihaknya perlu membutuhkan waktu beberapa tahun untuk menyatukan barusan. “Jika kita sudah merasa kuat, baru kita aksi lebih besar lagi,” tandasnya.
Mapala se-Riau minta secara tegas, agar aparat hukum dan pemerintah Riau serius tanggapi masalah kerusakan hutan. Aparat juga diminta netral dan bersikap tanpa pandang bulu dalam penegakan hukum terhadap para oknum pengrusak hutan.
Aksi berjalan lancar. Walau mereka beraksi hingga ke tengah jalan, namun tidak mengganggu aktifitas lalulintas di perempatan Taman Kota Pasirpangaraian. Pada Mapala selanjutnya bergerak ke Kampus UPP, persiapan penutupan Kongres Mapala se-Riau.***(Riau Pos)
PASIRPANGARAIAN- Ratusan pemuda Riau, tergabung dalam Pertemuan Bersama (Purnama) Pencinta Alam Riau Satu, Ahad (11/3/12), menggelar aksi damai di Taman Kota Pasirpangaraian, Kabupaten Rokan Hulu. Para Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) itu minta aparat hukum ikut selamatkan hutan di Riau.
Pada aksinya, ratusan pemuda peduli terhadap lingkungan, desak aparat penegak hukum di Riau untuk tegas terhadap para oknum perambah hutan di Riau. Perihal itu untuk menyelamatkan hutan Riau yang semakin hari semakin parah rusak oleh ulah manusia serakah manusia yang tidak bertanggung-jawab.
“Kita minta aparat penegak hukum peduli dengan lingkungan di Riau. Lihat hutan kita sudah habis untuk lahan perkebunan dan dijarah kekayaannya oleh oknum serakah. Bencana di Riau itu bukan takdir, tapi karena ulah kita sendiri yang kurang peduli terhadap lingkungan. Mereka hanya mau mengambil hasilnya, tanpa mau ikut menjaganya,” sampai AL, koordinator aksi dari Mapala Pasipic UIR, dalam aksi damainya di Taman Kota Pasirpangaraian, Ahad.
Para Pecinta Alam se-Riau, turut minta Pemkab Rohul turut serta dalam menjaga hutan. Seperti kerusakan hutan, menurut mereka sangat memalukan, apalagi Rohul sebagai tuan rumah tiga cabang olahraga Dirgantara pada PON XIII di Riau 2012.
“Mestinya kita malu, dimana peserta para layang dari 33 provinsi di Indonesia, nantinya akan saksikan langsung rusaknya hutan di Rohul dari atas,” kata orator lain.
Terang Ketua Pelaksana Purnama Pecinta Alam Riau Satu Fasolla Nasution, dari Mapala Polipera, kegiatan Purnama Pecinta Alam se-Riau Satu baru pertama kalinya digelar di Riau, dan Universitas Pasir Pangaraian (UPP) dipercaya sebagai tuan rumah, mulai Kamis (8/3/12) dan berakhir Ahad (11/3/12).
Kegiatan empat hari itu, selama dua para peserta gelar Kongres Mapala se-Riau di Kampus UPP. Di hari ketiga, para peserta pindah ke obyek wisata Air Panas Hapanasan di Kecamatan Rambah, untuk meninjau penangkaran kupu-kupu dan mengikuti seminar pengenalan tanaman makanan pokok untuk hewan jenis Insecta atau Insecti (serangga), sebutan latin hewan cantik yang memiliki sayap indah.
Fasolla mengaku, penangkaran kupu-kupu di obyek wisata Air Panas Hapanasan cukup bagus dikembangkan oleh profesional, sebab penangkaran hewan indah itu jarang sekali mendapat perhatian.
Purnama Pencinta Alam Riau Satu di UPP, kata Fasolla diikuti Mapala dari Kota Pekanbaru, Dumai, Kabupaten Bengkalis, Indra Giri Hilir, Indra Giri Hulu, Kampar, dan Rohul. Sementara pada kegiatan pertama kalinya itu, Mapala dari Kuantan Sengingi belum datang.
“Kegiatan ini pertama kalinya, jadi kita tidak muluk-muluk. Kita mulai dahulu dari kita sendiri. Kita inginkan Riau menjadi hijau kembali. Direncanakan aksi ini akan dilakukan setahun sekali, direncanakan tahun depan akan digelar di Bengkalis,” jelasnya menjawab riauterkini.com di sela-sela aksi.
Dari data-data yang dihimpun, menurutnya kerusakan hutan di Riau sudah sangat mengerikan dan memprihatinkan. Tapi untuk selamatkan hutan di Riau, pihaknya perlu membutuhkan waktu beberapa tahun untuk menyatukan barusan. “Jika kita sudah merasa kuat, baru kita aksi lebih besar lagi,” tandasnya.
Mapala se-Riau minta secara tegas, agar aparat hukum dan pemerintah Riau serius tanggapi masalah kerusakan hutan. Aparat juga diminta netral dan bersikap tanpa pandang bulu dalam penegakan hukum terhadap para oknum pengrusak hutan.
Aksi berjalan lancar. Walau mereka beraksi hingga ke tengah jalan, namun tidak mengganggu aktifitas lalulintas di perempatan Taman Kota Pasirpangaraian. Pada Mapala selanjutnya bergerak ke Kampus UPP, persiapan penutupan Kongres Mapala se-Riau.***(Riau Pos)
Jumat, 02 Maret 2012
RESTORASI KAWASAN MANGROVE DESA SUNGAI RAWA
Pada hari kamis tanggal 23 Februari
2011, pukul 09.45 WIB Mapala Suluh menghadiri acara pembukaan “Penanaman Bakau
Restorasi Kawasan Mangrove Desa Sungai Rawa” di gedung pertemuan balai Desa
Sungai Rawa Kecamatan Sungai Apit, Siak. Acara ini merupakan salah satu program
yang di lakukan oleh beberapa kelompok mangrove Desa Sungai Rawa dengan
didukung oleh beberapa LSM seperti Kabut Riau, Jikalahari dan TFCA Sumatera.
Acara ini dihadiri oleh kurang lebih
50 peserta yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat yang ada di Desa
Sungai Rawa, beberapa petinggi dan tokoh masyarakat Desa Sungai Rawa, perwakilan
dari beberapa perusahaan setempat seperti PT. Petroselat Ltd, RAPP dan Arara Abadi
serta beberapa orang mahasiswa.
Acara dimulai dengan sambutan dari
ketua kelompok mangrove Desa Sungai Rawa, bapak Junaidi yang menyatakan rasa
terimakasih atas bantuan dan perhatian yang diberikan kepada Desa Sungai Rawa,
karena penanaman bakau di daerah pesisir sangat besar manfaatnya bagi
kelangsungan hidup masyarakat setempat baik dari segi ekonomi maupun sosialnya.
Lalu di lanjutkan dengan sambutan dari Kepala Desa Sungai Rawa bapak H Jafar,
diikuti oleh perwakilan dari Dishut Kab. Siak, dan perwakilan dari RAPP oleh
bapak Khaerul Basyar serta perwakilan dari Jikalahari. Setelah serangkaian
sambutan itu acara ditutup dengan doa dan rombongan pun bergerak kearah pantai
yang jaraknya kurang lebih satu kilometer untuk melakukan penanaman secara
simbolis. Bibit yang dimiliki berjumlah 30.000 bibit bakau yang di budidayakan
oleh kelompok mangrove Desa Sungai Rawa sendiri, namun yang akan ditanam saat
ini sebanyak 3000 bibit.
Manfaat penanaman bakau salah
satunya untuk mencegah pengikisan tanah oleh air laut yang akan berdampak pada
menyempitnya luas wilayah desa, sebab tanaman bakau dapat melindungi daratan
dari hempasan air laut. Selain itu daerah mangrove juga menjadi habitat dari
berbagai jenis makhluk hidup yang dapat dimanfaatkan sebagai makanan seperti
kepiting bakau, kerang-kerangan, berbagai jenis ikan air payau dan banyak lagi.
Ditambah lagi kayu dari tanaman bakau juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan
bakar dan bahan pembuatan sampan.
Setelah menanam bakau, kami menuju
Perpustakaan Syarif Khasim Desa Sungai Rawa yang merupakan pustaka binaan
Mapala Suluh untuk meninjau perkembangan pengelolaan pustaka yang dilakukan
pemuda dan pemudi desa. Perpustakaan ini di bangun untuk meningkatkan minat
baca warga dan membantu mereka untuk memperoleh pengetahuan dari buku-buku yang
dihibahkan. Menurut pengurus perpustakaan ini dibuka setiap hari senin sampai
kamis dari jam 09.00 sampai jam 13.00 WIB.
Namun ada juga beberapa kendala dalam
pengelolaan pustaka ini yaitu koleksi buku yang dimiliki masih minim dan
pengurus yang bersedia untuk mengelola masih sedikit. Diakui keinginan dan
partisipasi dari pemuda-pemudi desa masih kurang untuk mengelola pustaka, salah
satu penyebabnya adalah dalam pengelolaan pustaka ini memang sifatnya sukarela
demi kemajuan desa itu sendiri sehingga tidak ada honor yang diberikan kepada
pengelola. Kesadaran inilah yang masih kurang dimiliki oleh pemuda-pemudi desa.
Hal ini memang tidak bisa di salahkan, sehingga ketua pengelola pustaka
berinisiatif untuk mengajukan proposal kepada pemerintah untuk dapat
mengusahakan anggaran untuk pengelolaan pustaka yang saat ini masih dalam
proses.
Langganan:
Komentar (Atom)